Jumat, 26 Mei 2017

Arena Seks - Horny Kali Aku Padamu

Arena Cerita Dewasa - Dari hiruk pikuknya kota B********o, dari jalan Diponegoro ke utara ke perempatan lampu merah sampai Jalan Teuku Umar ke barat menuju ke Jalan Panglima Sudirman terlihat lalu lalang kendaraan dari yang termahal sampai yang termurah. Di sepanjang trotoar terlihat seorang pelajar remaja berwajah tampan berambut agak gondrong sedang berjalan dengan santainya sambil menikmati sebatang rokok Dji Sam Soe eceran yang dibelinya dari kios di pinggir Gedung Bioskop Pakeri, tempat mangkalnya anak muda jika hari telah menjelang malam. Sambil berjalan, pelajar laki-laki yang tak lain adalah Riko Khanugrahan, seorang siswa SMA 1 B********o yang di sekolahan sangat dikenal di kalangan siswi-siswi SMA 1 karena ketampanannya dan sifatnya yang cuek dan masa bodoh.

Sebagai seorang yang memiliki predikat tampan, banyak sekali cewek-cewek yang ingin mendekatinya, ingin menjadi pacarnya, namun ternyata banyak pula yang merasa kecewa, karena keinginannya tidak mendapat respon dari Riko. Riko memang tipe pemuda yang ogah-ogahan dan sangat sulit ditaklukkan namun dia tidak sombong. Sambil menghisap sebatang rokok dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan, sesekali dia menoleh ke kanan dan ke kiri sembari cuci mata barangkali ada cewek cantik lewat yang bisa digodanya.

Sampai di Depan Halaman Parkir SMAN 1 B********o tak seorangpun cewek yang ditemuinya.

“Sialan benar hari ini …apa memang setan perempuan jarang yang keluar siang hari?” Setelah dia membuang Rokok yang sebenarnya masih panjang, dia memasuki pintu gerbang sekolahan.

Belum habis rasa kesalnya, tanpa disadarinya dia ditabrak seorang siswi perempuan sampai dia jatuh terpelanting dan terjengkang ke belakang,

“D****k…lari ndak lihat jalan, apa matamu sudah Picekk ? “ Dia berkata Geram.
“Habis situ jalannya ya ndak lihat-lihat ngeloyor aja ! Cewek tadi menggerutu sembari membersihkan sebagian roknya yang kotor kena debu.
“Eeeh, nggak minta maaf malah ganti nyalahin orang, Buset !” Tak jotos baru tahu rasa kamu !” Lalu dia ngeloyor aja tanpa mempedulikan cewek tadi yang ternyata adalah Iin siswi baru, pindahan dari SMA 5 Mojokerto yang baru masuk pagi ini.

Jarum jam menunjukkan pukul 7 terdengar bel berbunyi sebagai tanda mulainya kegiatan belajar mengajar di sekolahan itu. Semua murid bersiap-siap mengeluarkan buku pelajaran sesuai dengan jam pelajaran masing-masing kelas. Sementara Riko yang saat itu kebelet pipis dia berlari kecil menuju kamar mandi. Begitu Riko selesai kencing dia langsung kembali ke kelas III A2-2. Begitu gak sadar bangku yang biasanya hanya ditempatinya sendiri sudah ada yang menempati yaitu seorang cewek. Sementara teman-temannya yang lain sudah menyiapkan buku Biologi karena memang jam pertama adalah pelajaran biologi.

Belum selesai dia menyiapkan buku pelajarannya, Bu Rahma, guru Biologi yang merangkap sebagai Wali Kelas III A2-2 langsung berbicara

“Anak-anak sekalian, hari ini kalian kedatangan teman baru dari Mojokerto, Namanya Iin. Iin..silahkan kamu ke depan dan memperkenalkan diri pada teman-teman kamu, ayo” Begitu tutur bu Rahma sembari tersenyum pada Iin.

Tidak begitu lama gadis yang duduk di sebelah Riko berdiri dan berjalan ke depan, memperkenalkan diri. Pada saat itu jantung Riko serasa copot, gadis yang berdiri itu ternyata gadis yang tadi menabraknya di pintu gerbang.

“Halo..teman-teman, perkenalkan nama saya Iin Purnamawati, saya pindahan dari SMA Mojokerto, dan kepindahan saya karena saya ingin menjadi siswi SMA 1 yang terkenal di Bojonegoro ini”. Tutur katanya yang lemah lembut dan wajahnya yang cantik jelita membuat seluruh murid di dalam kelas itu terlena.

Di tengah suasana hening tersebut, dari bangku belakang terdengar Si Kemal bertanya :

“Eh..ngomong-ngomong rumahnya dimana, non?”.
“Huuuuuu….Dasar Playboy kampung ndak pernah liat cewek cakep langsung ngiler !!!” Suasana yang tadinya hening berubah menjadi hiruk pikuk.
“ Emangnya saya ini Bekicot yang kemana-mana harus bawa rumah segala ?” Jawab Iin sambil tersenyum.
“Ha..ha..ha…Sukuriiin Tau Rasa, makanya jangan sok akrab !!! Kegaduhan di kelas itu semakin menjadi-jadi sehingga Bu Rahma sambil tersenyum-senyum menghentikannya dan segera menyuruh Iin kembali ke tempat duduknya dan setelah itu pelajaran dimulai.

Sejak dimulainya pelajaran pertama sampai jam kedua pelajaran Biologi, Riko tampak terlihat diam tidak seperti biasanya dia selalu clometan setiap guru-guru mengajar. Hanya sesekali matanya melirik ke arah tempat Iin duduk. Dipandanginya gadis itu, yang memang memiliki wajah yang cantik berkulit kuning langsat, bola matanya yang indah dengan bulu mata lentik mungkin bisa menenggelamkan siapapun yang memandangnya, lehernya yang jenjang membikin laki-laki menelan ludah ingin mengecupnya, sementara didaerah dadanya tumbuh dengan suburnya dua buah gunung kembar yang membikin setiap lelaki ngiler ingin menghisapnya.

Riko memang sangat nakal, tak puas dengan semua yang dilihat dan dibayangkannya, matanya kemudian mengarah ke bagian betis Iin yang saat itu mengenakan seragam dengan rok mini yang sedikit tersingkap, sehingga menampakkan sepasang betis dan paha yang putih mulus. Jantung Riko berdegup kencang melihat semua itu, sampai-sampai dia tidak sadar Bu Rahma telah berada di sampingnya.

“Riko, coba kamu terangkan apa yang dimaksud dengan simbiosis mutualisme ?”tanya Bu Rahma.“ Saking kagetnya, Riko menjawab dengan gagap.
“Aa…anu…Bu.. anunya Iin eh” Gerr…seluruh murid di kelas itu tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Riko.

Sementara Iin yang disebut namanya langsung merah wajahnya karena malu.

“Makanya kalau Ibu sedang menerangkan kamu jangan melamun, kamu ngantuk ya ? capat sana cuci muka ke belakang?”Kata Bu Rahma kemudian.

Setelah minta ijin kemudian dengan terburu-buru Riko berjalan keluar kelas menuju ke belakang :” Slamet-slamet..untung Bu Rahma ndak sampai marah”gerutunya sambil membasuh muka di kamar kecil di belakang sekolah. Tanpa sadar ingatanya tertuju pada apa yang barusan dilihatnya lekuk-lekuk tubuh Iin yang indah melintas diingatannya, dan perlahan tapi pasti senjata rahasia yang dimilikinya mengencang dan berdenyut-denyut bak terkena aliran listrik. Lalu terlintas dibenaknya untuk segera melakukan hobby kesukaannya yaitu Onani. Tanpa basa-basi di bukanya resleting celananya, dan segera dikeliarkannya senjatanya berupa sebatang zakar yang besar dan panjang, lalu di elus-elusnya dan dikocok-kocok, sementara matanya merem-melek menikmati gerakan tangannya yang memang sudah lihai melakukan kegiatan itu.

Tanpa disadarinya, Iin yang sedari tadi menunggunya, dengan maksud ingin mendamprat Riko yang telah mempermalukan dirinya di hari pertama masuk SMA 1 Bojonegoro. Hilang kesabaran si Iin, ia langsung memaksa masuk ke dalam kamar kecil itu. Begitu Iin telah memasuki kamar kecil itu, keduanya bagai tercengang dan kaget setengah mati. Seketika itu juga Iin menjerit kecil sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sementara Riko yang kaget bukan kepalang malah nggak sempat menyembunyikan senjatanya dari penglihatan Iin. Lalu :

“Riko… apa yang kamu lakukan ?”Tanya Iin sambil nafasnya terengah-engah menahan amarah bercampur kekagetannya melihat si Riko yang setengah telanjang sambil memegangi pelernya yang besar.

Dasar si Riko memang rajanya Cuek, enak saja dia menjawab :

“Lagi ngocok … abisnya aku nggak tahan melihat kamu yang …..” Plak!!! Belum selesai Riko menjawab, tamparan Iin sudah mendarat di pipinya.

Riko sempat sempoyongan dan tanpa sengaja tangan Riko meraih tubuh Iin untuk bisa bertahan berdiri, namun tanpa sengaja yang dipegangnya malah buah dada si Iin. Merasa di lecehkan Iin kembali melayangkan tamparannya. Kali ini Riko sudah pasang kuda-kuda siap menghindari pukulan si Iin. Sreet..!! Pukulan Iin luput dan tubuhnya malah terpelanting mau jatuh. Melihat hal itu Riko tak sampai hati, diraihnya tubuh Iin agar tidak sampai jatuh.

Tanpa sadar Iinpun malah memeluk tubuh Riko, dan yang lebih seru lagi Peler si Riko tepat menempel di antara kedua pahanya. Dan… Cruoot…!!! Dirasakan kedua pahanya telah basah oleh cairan mani yang keluar darai peler si Riko. Dengan malu-malu keduanya saling memandang dan saling tersenyum.

“Maaf..ya, tadi pagi aku nggak sempat minta maaf karena telah menabrakmu. Malahan sekarang aku dua kali menamparmu, Habisnya kamu keterlaluan sih.” Kata si Iin kemudian. Riko yang nggak sadar masih setengah telanjang malah terus berkata :
“ Nggak..pa..pa.. aku juga minta maaf telah membasahi paha kamu”Kata Riko sambil menunjuk paha milik Iin.

Dengan genitnya Iin lalu mencubit perut Riko sambil tersipu malu. Sementara matanya sangat tertegun menyaksikan senjata Riko yang masih setengah tegang, kemudian dia berkata :

“Riko..itu lho..anumu ih aku jijik melihatnya.” Katanya sambil memalingkan mukanya yang semakin memerah karena malu, sementara buah dadanya turun naik mengikuti tarikan nafasnya yang kelihatan ditahan.

Riko yang melihat gelagat itu langsung saja menarik tangan Iin dan diarahkan ke Pelernya. Iin bagai terhipnotis mengikuti saja apa yang diperbuat oleh si Riko. Tangannya yang meiliki jari jemari yang lentik itu telah menempel di peler si Riko yang dirasakan berdenyut-denyut oleh si Iin.

“Kamu suka kan?” Tanya Riko
“Peganglah…sesukamu” lanjutnya Kemudian tanpa menjawab pertanyaan Riko, tangan si Iinlah yang mewakili menjawab pertanyaan Riko.

Dipeganginya senjata itu dan di elus-elusnya, Kemuduan Iin berkata lirih :

“ Seumur hidupku baru kali ini aku menyaksikan burung laki-laki, dan ternyata memang sangat mengasyikkan Apalagi burungmu sungguh besar” Sementara yang dielus-elus burungnya hanya merem-melek dan mendesah merasakan nikmat yang tiada tara.
”Akupun sama, seumur hidupku baru kali ini burungku dijamah perempuan yang cantik laksana bidadari.” Kata Riko diantara kenikmatan yang dirasakannya.

Iin langsung mencubit perut Riko kali ini lebih manja, begitu mendengar kata-kata rayuan dari laki-laki dihadapannya. “Do…ijinkan aku mengulumnya ?” pintanya dengan lirih dan manja. Sementara mata keduanya saling beradu. Dan dengan anggukan pelan Riko mengiyakan permintaan Iin.

Dengan sedikit membungkuk Iin mulai menciumi peler yang besar sebesar buah Pisang Ambon itu Iin tak sadar kerah baju yang dipakainya agak longgar sehingga tampak oleh Riko bonggol buah dada yang kuning dibalik BH yang dikenakan Iin. Riko sampai menelan ludah dibuatnya. Sementara Iin yang merasa permintaannya dikabulkan, dia langsung menciumi peler Riko. Iin tak menghiraukan bau kurang sedap saat menciumi peler itu. Malah dia kelihatan semakin bernafsu sekali memainkan lidahnya.

Perlahan-lahan dijilatinya batang peler itu, disapunya laksana membersihkan debu yang menempel di senjata itu, Dikemot-kemotnya kepala senjata itu, disRikot-sRikotnya seperti seorang yang sudah berpengalaman. Riko menjadi blingsatan dan laksana melambung ke awang-awang :

“Ahh…uuhh…enaaak Iiiinn…!! Riko merepek di sela-sela kenikmatan yang dirasakannya. Kemudian kedua tangannya perlahan-lahan turun dan menjamah dua buah gunung kembar milik Iin, diremas-remasnya dengan lembut.

Merasakan ada sesuatu yang yang nikmat menjalar di dadanya, Iin lalu menghentikan perbuatannya, lalu dia perlahan berdiri, dengan nafas terengah-engah dia lalu merapatkan tubuhnya ke tubuh Riko. Iin bagai memohon dia memejamkan kedua matanya sambil membuka sedikit bibirnya.

Riko yang memang sering menyaksikan Film Semi, dia langsung merespon apa yang diinginkan gadis dihadapannya. Perlahan-lahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Tak lama kemudian keduanya telah terlelap didalam cuman yang hangat. Bibir mereka saling berpaut dan lidah beradu lidah saling melilit, sesekali keluar desahan lirih dari mulut Iin. Mereka saling melumat dan saling menggigit. Sementara tangan Riko yang nakal perlahan-lahan meremas-remas buah dada milik Iin yang sudah semakin mengencang besar. Iin membalasnya dengan memegang senjata Riko dan mengocoknya. Tak puas dengan meremasnya Riko perlahan-lahan membuka satu persatu kancing baju yang dikenakan Iin. Merasakan sedikit kesulitan dalam membuka kancing baju itu, Iin lalu berbisik :

“ biar aku aja yang membukanya..”

Setelah satu persatu Iin membuka kancing bajunya, Riko begitu tercengang menyaksikan pemandangan yang sangat menggiurkan itu. Dihadapannya telah telah nampak dua buah gunung kembar yang indah yang menjulang di dalam BH tanpa tali berwarna Krem. Tak sabar melihat pemandangan itu Riko langsung menyerbu, dipelorotkannya BH yang menutupi buah dada yang ranum tersebut, dan tak ayal lagi didapatinya dua buah susu yang putih dengan putingnya yang kemerah-merahan. Dalam hatinya berkata bahwa buah dada yang sangat indah itu masih belum terjamah oleh siapapun sangat berbeda dengan buah dada Ibu Kostnya yaitu Tante Lisa dan ibu-ibu tetangga lainnya yang sering diintipnya saat mandi. Dengan penuh nafsu dia langsung menerkam kedua gunung kembar itu, satunya dihisap-hisap putingnya dan satunya lagi diremas-remas dan sesekali dipelintirnya putting susu milik Iin.

Sementara Iin yang baru pertama kali merasakan buah dadanya dijamah laki-laki langsung blingsatan mendesah dan berbisik takkaruan.

“Ssssh..aaahh..oh. Rikooo, kamu apakan..susuku..sssh…. terus…. hisap terus… Ssssh….Rikooo oooh”

Desahan Iin menambah rangsangan nafsu Riko semakin membara. Tangannya segera memainkan jurus lainnya, disingkapnya rok milik Iin. Tangannya yang nakal langsung menelusup dibalik CD milik Iin yang ternyata sudah basah oleh cairan yang keluar dari dalam gundukan yang sedikit terbelah dengan ditumbuhi rambut yang subur diantaranya.

Merasakan tangan Riko yang semakin nakal, seperti teringat akan keadaan dan situasi dimana mereka pada saat ini, Iin lalu memegang tangan Riko,

“Sambil berbisik : Aku mohon Jangan sekarang, kita lanjutkan besuk saja. Mendengar bisikan itu Riko malah mencium dan melumat bibir Iin, lalu dia berkata :

“Iin, baru kali ini aku bisa merasakan bunga-bunga cinta tumbuh di hatiku dan cinta itu datangnya dari dirimu, Iin aku mencintaimu, terimalah cintaku, Iin“. Iin hanya diam membisu dan menundukkan kepala mendengar kejujuran perkataan Riko yang To The Point itu.

Lama dia menundukkan kepala seperti memikirkan sesuatu.

“Iinkamu nggak menerima cintaku “ Tegas Riko, sambil mengguncang-guncang pundak Iin. Iin yang mendengar kebimbangan Riko langsung tertawa kecil dan memandang lelaki tampan itu, lalu dengan manja dipeluknya tubuh lelaki itu dengan eratnya :
“Akupun sungguh mencintaimu… kuharap ini untuk yang pertama dan yang terakhir kali, Riko…maukah kau bersumpah dihadapanku bahwa kaupun juga demikian. Riko hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tangannya membelai rambut kekasih barunya itu.
“Ayo kita kembali ke kelas, sudah berapa lama kita berada disini, hah setengah jam ?” Keduanya lalu tersenyum dan buru-buru kembali ke dalam kelas.

Siang itu cuaca cerah sekali, secerah hati Riko yang telah dilanda cinta kepada sesosok gadis yang cantik jelita. Sembari bernyanyi-nyanyi kecil, dibolak-baliknya lembar demi lembar buku Pelajaran Biologi yang baru saja dipinjam dari Perpustakaan Sekolah. Tanpa disadari, seorang wanita bertubuh sintal sudah berada disampingnya. Wanita bertubuh seksi itu tak lain adalah Tante Lisa yaitu seorang ibu kost yang selama ini selalu memperhatikan dan menyayangiku dan lebih kuanggap sebagai pengganti ibuku yang jauh di kota lain. Di sini hampir semua kebutuhanku terpenuhi dari makan, minum, tidur, cuci baju dan lain-lainnya semuanya.

“Baru jam Sebelas kok sudah pulang bolos ya? “.
“Enggak Te, tadi kebetulan ada rapat guru membahas EBTANAS yang sebentar lagi akan datang !” Jawab Riko.
“Ngomong-ngomong sekarang kamu tidak lagi sendirian, ada keponakan tante yang ikut tante di sini, anaknya cantik lho. Kalau kamu pingin kenalan, tuh anaknya ada di belakang lagi mbantu tante masak”, Kata Tante Lisa,
“Ajaklah ngobrol, tante mau belanja ke Bravo sebentar, eh… kamu nggak nitip apa-apa Do?”sambungnya kemudian.
“Nggak tante, trima kasih” jawab Riko. ArenaSeks
”Udah Do, tante tinggal dulu ya, jaga rumah ya!” Wanita seksi itu kemudian berjalan ke garasi yang di dalamnya terdapat sebuah Sedan Honda Civic wonder, peninggalan suaminya yang meninggal dunia beberapa bulan yang lalu.

Dengan meninggalkan derungan dan kepulan asap, mobil janda cantik itu meninggalkan halaman rumah yang tidak seberapa besar, tapi cukup luas untuk dihuni tiga orang.

Setelah mengunci pintu depan, Riko yang penasaran dengan apa yang dikatakan ibu kostnya, langsung saja dia mengendap-endap menuju ke dapur. Sesampai di pintu pembatas antara ruang tengah dan dapur dia menghentikan langkahnya dan memperhatikan seputar dapur. Setelah agak lama memperhatikan seluruh dapur ternyata tidak ada seorangpun disana, hanya terdengar bunyi bercebur dan gemericik air dari dalam kamar mandi.

”Apakah keponakan yang tante ceritakan tadi sedang mandi, wah tambah lagi deh jadwal ngintipku?”pikir Riko sambil senyum-senyum sendiri.

Walaupun si Iman sudah melarang, namun si Imron masih lebih kuat mempengaruhi Riko untuk mengintip seseorang yang kini sedang mandi. Perlahan-lahan dia masuk ke kamar mandi berdinding papan kayu yang kebetulan ada dua (bersebelahan, Red), satu untuk pribadi berada di dalam dapur satunya lagi diluar biasanya sering dipakai untuk umum. Di dalam kamar mandi sebelah luar, Riko langsung menuju lubang sebesar jari kelingking yang sengaja dia siapkan untuk keperluan mengintip. Dari lubang itu dia dapat melihat sebentuk tubuh mulus kuning langsat yang membelakanginya. Rambutnya yang hitam panjang mengombak tergerai sampai di pinggang. Dari punggung yang mulus itu, dia dapat membayangkan bagaimana mulusnya payudara yang menempel didadanya.

Belum habis apa yang dipikirkannya gadis yang tengah asyik mandi itu membalikkan badannya. Laksana tersekat leher Riko ketika menyaksikan bungkahan buah dada yang besar dan putih itu bagai menantang siapapun yang melihatnya. Dada Riko sempat sesak menahan nafasnya yang kian memburu menyaksikan gadis itu sedang membersihkan gunung kembarnya. Puting susu yang merah kecoklatan itu dipelintir-pelintir dan digosok-gosok menggunakan sabun.

Sementara tangan kanannya membersihkan payudara itu bergantian, sedangkan tangan kirinya asyik menggosok gosok membersihkan gumpalan bukit terbelah diantara selangkangannya. Bukit pangkal paha (Vagina, Red) itu begitu indahnya dengan ditumbuhi rerumputan liar dan lebat mengelilingi belahan yang tepat ditengah-tengahnya terdapat benda kecil sebesar kacang (Kelentit / Klitoris / Itil, Red) yang mencuat berwarna kemerahan. Sambil bernyanyi kecil gadis itu dengan santainya membersihkan seluruh badannya tanpa menyadari ada sepasang mata sedang memperhatikannya. Dia terus saja bernyanyi dan sesekali mendesis saat jari-jari tangannya membelai liang vagina miliknya.

“Ooh…Ssssh… aaah..”desisan gadis itu bagai menghunjam dan menusuk di ulu hati Riko, yang sedari tadi hanya bisa mengelus-elus penisnya yang sudah menegang.

Ditengah keasyikannya menyaksikan lekuk-liku tubuh yang indah itu, Riko baru sadar antara percaya dan tidak ketika menyaksikan wajah si pemilik tubuh yang seksi itu. Dikucek-kucek matanya berkali-kali, tapi tetap saja wajah gadis dihadapannya itu tidak berubah yang tidak lain adalah Iin teman sekelas sekaligus kekasih barunya.

Tersadar dengan siapa sebenarnya yang sedang diintipnya, Riko jadi senyum-senyum sendiri.

“Dasar nasib lagi mujur…eee dapat cewek baru, ternyata sekarang malah tinggal serumah..hi…hi…hi..ini baru namanya rejeki nomplok” kelakarnya dalam hati.

Entah karena sudah bosan atau entah sebab apa, tiba-tiba saja Riko menyudahi keasyikannya mengintip. Lalu dengan langkah perlahan dan mengendap-endap dia meninggalkan kamar mandi itu menuju ke dalam kamarnya. Dia sempat bertanya-tanya dalam benaknya dimana kamar Iin? Apa di kamar sebelah ya? Soalnya kamar yang ada di rumah itu Cuma empat buah, satu di belakang dipakai oleh Tante Lisa, satu di depan untuk kamar tamu, yang di tengah ada dua buah kamar, salah satunya yang ditempatinya, sedangkan kamar satunya yang juga kosong biasa dipakai untuk sholat.

”Apa dia tidur di kamar tamu ya? Rasa-rasanya gak mungkin. Apa di kamar sebelah ya, la nanti aku sholat dimana? begitu pikiran yang berkecamuk di benaknya.
”Ah, masa bodo gak bisa hari ini, hari esok kan masih panjang, yang penting dicoba dulu siapa tau dia tinggal di kamar sebelah” begitu pikiran Riko yang sulit dinalar apa maksudnya.

Bukankah pintu ini berhubungan langsung dengan kamar sebelah? Tanpa pikir panjang Riko langsung saja membuka pintu tersebut yang kebetulan kuncinya dia sendiri pegang.

Setelah masuk ke kamar sebelah, dilihatnya di atas Spring Bed itu berserakan baju perempuan. Keyakinannya semakin besar karena baju itu jelas punya Iin. Karena sebelumnya kamar sebelah itu kosong tiada yang menempati. Setelah merasa yakin bahwa kamar itu memang yang ditempati oleh kekasihnya, lalu Riko bergegas bersembunyi di samping lemari pakaian yang ada di sana.

Tak berselang lama dari arah belakang terdengar suara nyanyian merdu seorang gadis. Sebentar kemudian terdengar suara pintu kamar terbuka dan ditutup kembali, dan dari arah pintu itu muncul gadis berparas cantik yang telah dinantikannya. ”Oh Pucuk dicinta Ulam Tiba, ternyata benar dugaanku, kamar ini memang dia yang nempati” gumamnya kemudian. Dilihatnya Iin hanya mengenakan selembar handuk yang menutupi tubuh mulusnya sebatas dada hingga paha. Melihat pemandangan itu Riko hanya bisa menelan air ludah dan terlihat hidungnya kembang kempis menahan gejolak birahi yang timbul ketika dia melihat gadis pujaan hatinya mulai melepaskan handuk yang membalut tubuh mulusnya.

Setelah Iin melepaskan handuk yang melilit tubuhnya dia tidak langsung mengenakan pakaian yang sudah disiapkannya. Tapi bak seorang Foto Model, Iin yang masih telanjang bulat itu sambil mulutnya bernyanyi, dia berpose di depan cermin besar yang menempel di meja rias. Sesekali dipandanginya kedua buah dada yang indah itu. Entah apa yang yang dipikirkannya, sambil memandangi buah dadanya yang sangat sempurna itu Iin kelihatan senyum-senyum sendiri.

Seperti tengah melakukan tes audisi pemilihan peragawati Iin berputar-putar dan sesekali melenggak-lenggok di depan cermin. Gaya Iin yang kelihatan agak kaku itu membuat Riko yang sedari tadi memperhatikannya, tak bisa menahan ketawanya. Sambil tertawa cekikikan Riko kelihatan memegangi perutnya yang sakit akibat menahan tawanya. Sementara Iin yang mendengar ketawa cekikikan itu kaget bukan kepalang dan kelihatan ketakutan, lalu diraihnya handuk yang ada di lantai dan dililitkan kembali ke tubuhnya. Lalu dia melihat-lihat seputar ruangan kamarnya, dari wajahnya terbersit raut muka yang pucat pasi karena ketakutan. Dibenaknya bertanya-tanya :

“Siapa yang ketawa tadi…jangan-jangan rumah ini berhantu….hiiiii takuuut?”

Belum hilang rasa takutnya tiba-tiba dirasakan ada tangan yang melingkari pinggangnya. Kontan saja Iin menjerit dan meronta-ronta mencoba melepaskan tangan yang melingkar di atas pinggulnya. Tapi semakin dia meronta semakin kuat pula pelukan yang dilakukan tangan tak bertanggung jawab yang ternyata adalah tangan si Riko. Dengan sekuat tenaga Iin tetap mencoba melepaskan pelukan itu, dia tetap meronta-ronta sehingga handuk yang melilit tubuhnya malah terlepas.

Melihat hal itu ulah Riko semakin menjadi-jadi. Tangannya yang semula hanya melingkar di pinggang, kini merambat ke atas dan menjamah dan meremas-remas buah dada milik Iin. Tapi Riko bukan tipe Maniak Sex, diperlakukannya kedua gunung kembar itu dengan lembut. Diremas-remas dan sesekali putingnya dipelintir dengan lembut, hingga si Iin lupa akan ketegangan yang menimpanya. Kini yang dirasakan hanyalah kenikmatan pada kedua buah dadanya. Iin serasa melayang-layang ke angkasa menikmati gerakan lembut tangan si Riko.

Seperti ada yang mengingatkan, tiba-tiba Iin berontak dari perlakuan nakal tangan Riko. Dihentakkan tangan yang nakal itu hingga akhirnya terlepas dan secepat kilat disambarnya handuk yang tadi menutupi tubuhnya kemudian dia lari menuju ke pintu. Melihat hal itu, Riko malah tertawa cekikikan dan dari mulutnya keluar ucapan :

“Kenapa lari Sayang… jangan berlagak gak mau, masa nggak boleh sih aku pegang susumu, kan enak toh?” Iin seperti mengenal suara yang didengarnya, antara percaya dan tidak dia lalu menggumam pelan sekali dan hampir tak terdengar
”Rikooo…kamukah itu” Lalu tangannya yang memegang gagang pintu kamar dan akan membukanya akhirnya dibatalkan lalu dia membalikkan tubuhnya dan menyaksikan seorang pemuda yang berdiri membelakanginya.

Iin yang semakin penasaran dibuatnya, lalu pandangannya ditujukan pada cermin yang berada di depan pemuda itu, dari pantulan gambar yang ada di cermin itu dia melihat pemuda tampan yang dikenalnya sedang tersenyum-senyum. Bagai terbangun dari mimpi buruk biarpun masih dalam keadaan telanjang bulat, dia berlari menghampiri pemuda yang tidak lain adalah kekasihnya sendiri. Iin yang bagai kesetanan segera membalikkan badan dan memeluk pemuda yang berbadan tegap itu dan diciuminya dengan penuh nafsu, kemudian dari mulutnya terdengar dia bertanya

”Riko sayang, bagaimana kamu bisa tau aku tinggal disini dan bagaimana mungkin kamu bisa masuk kesini?”

Riko hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan itu, dan membiarkan kekasihnya yang sudah dihinggapi amukan birahi itu semakin gencar menciumi wajah dan lehernya. Sedangkan jari-jarinya yang lentik itu bagaikan kesetanan menggosok-gosok benda dibalik celana Riko yang dari tadi sudah tegang dan mengeras. Arena Cerita Dewasa

0 komentar:

Posting Komentar