Jumat, 28 April 2017

Arena Seks - Pelayan Rumahku Layani Aku DiRanjang Juga

 Arena Seks
Arena Seks - Tajam mataku memandang wanita yg baru masuk ke rumah bersama ibu. Dia adalah pembantu baru yg di ambil oleh ibuku dari sebuah penyalur tenaga kerja tidak jauh dari rumah kami.

Wajahnya cukup cantik, kulitnya putih mulus, bodinya juga bohay. Dia melirik ke arahku lantas mengangguk kecil sebagai tanda hormat mungkin. Aku membalasnya dengan senyum, sebentar kemudian ibuku memperkenalkan wanita itu kepadaku.

Gaya bicaranya pembantu baru di rumah kami tersebut sangat renyah dan enak di telinga. Biasa, sebagai seorang anak dari majikannya, aku pun lantas meminta tolong kepada pembantu tersebut yg bernama Nining untuk menyeterika baju milikku karena sebentar lagi aku akan menghadiri pesta di rumah teman.

Sebagai orang yg dipekerjakan dan dibayar, Nining dengan cekatan mengerjakan apa yg aku perintahkan tadi.
Dia sibuk menyeterika baju dan celanaku, sementara itu aku mengamatinya dari jauh. Hemmmm, kiranya aku kesengsem dengan kecantikan dan kemulusan tubuhnya. Rasanya nggak pantas kalau wanita berumur sekitar 20 tahun itu menjadi seorang pembantu rumah tangga mengingat begitu moleknya dirinya.

Ditaruh dimana ini mas?” Suara dia membuyarkan khayalanku tentang dirinya.

“Emmm, biar disitu saja,” Aku mengambil baju yg telah selesai di seterikanya.

Dia menundukkan wajahnya, aku tersenyum, lalu berlalu darinya.

Aku masuk ke kamar, ku amati baju dan celana di tangan, sepertinya Nining pandai dalam bekerja, buktinya seterikaannya sangat rapi menyeluruh, aku pun senang dengan hasil tersebut.

Setelah mandi dan berganti baju, aku langsung berangkat ke rumah teman yg ngadain pesta di malam itu dan tidak memikirkan pembantu baru tersebut.

Menjelang tengah malam pesta di rumah teman sudah selesai, dan aku langsung pulang ke rumah.

Jika biadanya kalau aku pulang sampai malam yg membukakan pintu adalah Bi Ijah, maka malam itu Nining lah yg menggantikan pembantu lama kami untuk membuka pintu karena sudah dua hari ini Bi Ijah pulang ke kampungnya dan katanya tidak kembali lagi ke rumah kami.

Bell pagar aku tekan, tidak lama kemudian Nining muncul dengan setengah berlari menuju pagar depan. Ya…, mungkin wanita tersebut belum tidur dan menunggu diriku, buktinya dia begitu cepat membukakan pintu setelah bell aku tekan tiga kali.

“Kamu belum tidur?”
“Belum mas,” Jawabnya dengan muka agak ditundukkan.”Arena Seks
Oh begitu. Ya sudah, eh ini, ini buat kamu,” Kuberikan martabak kacang yg tadi beli di pinggir jalan menuju ke rumah kepada Nining.
“Apa ini mas?”
“Hanya martabak kacang. Ya sudah, aku masuk dulu,” Aku langsung masuk ke dalam, sementara dia menyusul setelah mengunci gembok pagar.

Semalaman aku tidur dengan pulasnya karena memang badanku terasa capek sekali. Aku bangun tidur menjelang siang dan langsung keluar kamar.

Aku tahu jika ibu dan ayah sudah tidak berada di rumah, mereka telah sibuk dengan pekerjaan di kantornya masing-masing. Dan biasanya kalau aku bangun kesiangan dan tidak masuk kuliah, maka aku ditemani Bi Ijah di rumah. Oleh karena Bi Ijah sudah tidak di rumah kami, maka sekarang aku ditemani oleh Nining, pembantu baru yg semok tersebut.
Aku pun menghampiri Nining yg baru memasak di dapur, biasanya aku juga suka bercanda dengan Bi Ijah di dapur saat beliau masak.

Entahlah, tiba-tiba perasaan aneh menyeruak di dada ku dan membuat ser-seran. Mulanya getar halus mengalir pelan kemudian merambat ke seluruh persendian dengan cepatnya. Aku memandangnya tak berkedip, dia sungguh cantik sekali.

“Eh mas Febri, baru bangun tidur ya mas?”
“Iya Ning, kesiangan nih. Kamu sih… nggak membangunkan aku,” Jawabku yg terkaget dengan suaranya.
“Maaf mas.., kan mas juga tidak bilang kalau minta dibangunkan, iya kan? Mas Febri mau dimasakkan apa?”
“Apa saja Ning, lagian aku malas makan kalau masih jam segini,”
“Aku masakkan sop saja, ya mas, biar segar,”
“Emmm, ini saja Ning, Rendang. Kamu bisa masak rendang kan? Kemarin aku lihat masih ada itu daging di kulkas,”
“Bisa mas,” Bergegas dia melihat daging dalam kulkas.

Nining mengiyakan karena daging itu masih ada dan dirinya pun bilang kalau bisa memasak rendang. Aku melemparkan senyum kepadanya lalu kembali ke kamarku.

Di kamar sendiri rasanya sumpek, aku keluar kamar dan kembali mau ke dapur melihat pembantu itu. Aku terhenyak, Nining sungguh sangat sexy dengan balutan pakaian seperti itu sambil mengulek bumbu, ternyata dia sudah berganti baju sepeninggal dirku masuk ke kamar tadi.

Mataku susah dikedipkan, inginnya terus melihatnya yg sangat sexy dan syur menurutku sampai-sampai tak kusadari k0ntolku menegang tak terkendali.

Berlahan aku mendekatinya dan berdiri di sampingnya, hemmmmm dia memang menggairahkan sekali.

Aku duduk di dekatnya, aku terus memandang tubuhnya yg kini dibalut kutang warna merah hati dan bercelana pendek itu. Melihat diriku datang dan disampingnya, Nining terkejut. Dia sepertinya malu dengan apa yg ia kenakan dan dilihat olehku.

“Eh mas Febri, maaf mas,” Dengan cepat dia menutupi belahan dadanya yg terlihat itu dengan kedua lengannya.

Dia tidak berani menatap wajahku, mungkin malu.

“Kenapa denganmu Ning? Biasa saja deh. Emmmm, kamu cantik sekali Ning, dan juga sexy,” Kataku dengan menahan dorongan syahwat yg teramat kuat bergejolak karena dia.
“Tapi mas, maaf saya mau pakai baju dulu,” Wanita itu hendak bangkit mengambil pakaian, tapi aku menahannya. Kami saling pandang, kemudian aku tersenyum.

Berlahan aku menyentuh kulit tubuhnya, dia beringsut mundur menghindar. Aku melakukannya lagi dengan terus memuji kecantikan dan kemolekan tubuhnya, alhasil dia diam dan menatapku saat dagunya aku angkat sedikit dengan jemari.

“Ning, kamu sudah pernah di cium cowok kan?” Pertanyaanku tadi tidak dijawabnya.

Dia menunduk dalam-dalam. Entah setan apa yg merasuki diriku hingga kejadian itu terjadi. Dalam diamnya Nining tersebut kemudian aku menggeraygi tubuhnya. Mulanya dia menolak dan menepis tangannku, tapi setelah tanganku mendarat di paha dan dadanya serta mwngelusnya, Nining diam dengan tubuh menggeliat kecil, mungkin dia geli dengan elusan yg aku lakukan.

Melihat dia yg menggeliat dan tidak berusaha menjauhkan tanganku dari tubuhnya, aku semakin edan saja. Aku lumat bibir ranum milik pembantu itu. Aku kulum bibirnya dengan lembut dan kusedot-sedot pelan, dia menikmatinya.
Dia mendesah saat tanganku menyelinap masuk ke kotang/BH yg ia kenakan dan memelintir kecil puting susunya, kemudian meremas-remas payudaranya. Dengan sekali gerakan, BH itu sudah melorot dan terlihatlah dengan jelas buah dadanya.

Tubuhnya bergetar dan panas dingin saat bibirku menuruni lehernya. Aku cucrup leher jenjangnya, dia menggelinjang.

Bibirku terus turun dan berhenti di belahan dada yg kenyal dan putih mulus tersebut. Aku sedot-sedot putingnya. Aku cucrup dengan kuat gundukan kembar yg menggantung tersebut, dia mencengkeram rambutku.

Puas aku bermain di daerah dada, bibirku turun menyusuri perutnya. Dia geli saat aku cium perutnya yg ramping dan bersih. Aku tarik kakinya selonjor, dengan gerakan cepat pula aku tarik cekana pendek yg sedari tadi ia kenakan. Dia sedikit meronta dan berusaha menutupi kemaluannya, tapi dengan cepat tanganku merenggangkan kakinya hingga terbuka lebar meneknya yg kemerahan.

Wahahku langsung jatuh tepat di pangkal pahanya. Aku ciumi bulu kemaluan yg hitam lebat, dia mendesis. Diteruskan dengan mencium memeknya yg terbuka lebar itu, ternyata baunya lumayan harum, tidak menjijikkan seperti kepunyaannya si Ratna, pacarku.

Di lantai itu tubuhnya aku baringkan dengan paha terbuka lebar. Aku jelajahi habis memeknya dengan bibir dan lidah, dia mendesah-desah keenakan. Saking tidak kuatnya menahan geli dan enak, Nining menarik kepalaku ke atas hingga tubuhnya tertindih oleh badanku.

Aku ciumi wajahnya, tangannya meraba-raba mencari kontolku. Setelah kontol dia dapatkan, dia berusaha memasukkannya memeknya yg tadi aku lihat sudah berlubang dan tidak perawan itu.

Sengaja aku gerak-gerakan bokong agar k0ntol itu tidak masuk ke lubang nikmat tersebut, Nining pun gemas karenanya. Matanya yg bulat nan indah itu memandangku, dia bilang supaya aku segera memasukkannya. Arena Seks

“Ayo dong mas, masukkan…,”
“Sudah nggak tahan ya Ning,”
“Iya mas, cepetan dong…, aaaachhhh..,”
“Kulum dulu dong kontolku,” Aku berguling ke samping, dia bangkit lalu menyambar k0ntolku. Dengan lahap di kulumnya kontolku yg memang ukurannya panjang dan besar.

Panjang k0ntolku 25 cm, besarnya seperti pegangan gas motor mega pro.

Nining sangat menikmati kontolku. Dikecup, disedot, dijilat, bahkan dimasukkannya sampai habis ke dalam mulutnya sampai matanya melotot. Aku hendak menarik k0ntol dari mulutnya, tapi dia menahannya. Mulutnya sangat keasyikan aku sodok-sodok dengan k0ntol kesayanganku tersebut.

Puas dia melumat k0ntolku, ia berganti menarik-narik kantung testis dengan mulutnya, bahkan dicaploknya testis tersebut sampai aku tak tahan dibuatnya.

Dia mengambrukkan tubuh mulusnya ke lantai. Langsung saja aku tindih tubuh sintalnya di lanjut dengan menancapkan senjata ke memeknya. Nining mendelik, lubangnya terasa sempit dimasuki rudalku. Aku menggerakkan bokong maju mundur, pembantuku itu sangat menikmati tusukan demi tusukan yg aku lakukan.

Rintihan, desahan dan desisan keluar dari mulutnya dan semakin membuat bergelora.

“Aaaachhhh…, ouwwww…, aaachhh…, ssssstttss…,” Suara Nining. Dia terus menggelinjang mendesis merasakan sodokan kontolku. Kami sama-sama mencapai puncak klimaks.

Aku terduduk memandangi wajahnya, dia tertunduk setelah menatapku.

Hari itu nikmat kurasakan dari goygan pembantu baru di rumah kami.

Aku meninggalkan dia dan masuk ke kamar. Aku hempaskan tubuhku ke tempat tidur, wajahnya malah membaygi kelopak mataku. Sejurus kemudian aku memanggilnya, dia datang dan menundukkan wajahnya.

Nining yg berdiri di depan pintu tersebut langsung aku tarik masuk dan menghempaskan tubuh mulusnya ke ranjang. Aku menindih tubuhnya, dan kembali memburu nikmat diantara nafas penuh nafsu.

Apa yg kami lakukan itu terus berlanjut di hari-hari berikutnya. Nining selalu melayani nafsuku kapan pun, siang ataupun malam. Bahkan sering dia aku ajak tidur di kamarku saat telah larut malan dan kedua orang tuaku sudah tudur.

Pembantu baru di rumahku itu memang hebat, goygannya sangat syur, memeknya pun legit menggigit dan membuatku selalu memintanya. Tapi sayang, hanya setahun Nining bekerja di rumah kami. Dia pamit pulang kampung karena orang tuanya sakit, dan hingga kini dirinya tidak pernah kembali.

Sejak diriku berhubungan dengan Nining itu, kemudian aku meminta kepada ibu agar mempekerjakan pembantu muda dan berwajah lumayan dengan alasan aku suka neg jika harus melihat wajah tidak cantik, dan ibu menurutinya, dan aku selalu menggauli pembantu tersebut walaupun terkadang pembantu itu menolaknya. Arena Seks

0 komentar:

Posting Komentar